Jilbab Syar'i, mahkota kesucian

Gambar
Jilbab syar’i, selimut kasih Ilahi, Menutupi raga dengan lembut suci. Bukan sekadar kain membalut tubuh, Namun benteng jiwa dari segala peluh. Di bawah naungannya ada kemuliaan, Simbol iman dan ketaatan. Tak goyah meski angin mencibir, Karena ini adalah titah yang takkan pudar. Wahai Muslimah, hiaslah dirimu, Dengan kain syar’i yang melindungimu. Bukan belenggu, tetapi penjaga, Agar surga menjadi tempat tinggalmu selamanya. Jilbabku bukan sekadar busana, Ia adalah mahkota dari surga. Pakaian takwa yang Allah restui, Menjadi saksi cinta kepada Ilahi. Jilbab Syar'i: Tuntunan, Hikmah, dan Keutamaannya Islam adalah agama yang memberikan perhatian besar terhadap kemuliaan dan kehormatan wanita. Salah satu bentuk perlindungan tersebut adalah dengan mensyariatkan jilbab syar’i. Jilbab syar’i bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga simbol ketaatan, kemuliaan, dan identitas seorang Muslimah. Al-Qur'an memberikan tuntunan yang jelas mengenai pakaian wanita Muslimah, salah satunya dalam ...

Sebuah Renungan

 

Sebuah Renungan


Penerbit : Darul Arqom

Tahun Terbit : 2018

Kota Terbit : Jakarta

Jumlah Halaman : 285 Halaman

Penulis : Dr.HM. Zuhdi Zaini, MA

 

Resume Buku :

Usia berapakah anda?

Kapan Terakhir kali anda bermaksiat?

Kapan terakhir kali anda bertaubat?

Kapan terakhir kali anda berdzikir?

Kapan terakhir kali anda berbuat baik?

Kapan terakhir kali anda berbakti kepada kedua orang tua?

Sudah punya amal apakah di usia sekarang?

 

Buku sebuah Renungan mengingatkan kita akan perjalanan hidup di dunia yang tidak akan abadi. Dalam buku ini tidak hanya merenungkan diri sendiri saja akan tetapi merenungkan kondisi umat saat ini. Begitu banyak keresahan dalam diri dan keresahan di sekitar kita.

Kita sebagai umat islam mengharuskan untuk mengembalikan segala  urusan kita kepada Allah, atau dalam artian segala urusan kita harus melibatkan Allah. Karena hanya Allah lah tempat bergantung Makhluknya. Dalam buku ini banyak sekali menjadikan Al-Qur’’an dan Hadis sebagai sumber rujukan utama.

Dalam buku ini mengulik banyak mengenai kemaslahatan umat, diantaranya : Kepemimpinan dalam islam, Agama dan Cinta, Allah maha Pencemburu, Cinta dan Benci karena Allah, Dzikrullah, Akal dalam Perspektif AL-Qur’an, Mengenai Fatimah Az-Zahra, Al-Ghuraba, Hati dalam Perspektif Al-Qur’an, Perbaikan diri dan lain sebagainya. Saya sangat tertarik dengan buku ini, karena penulis buku ini adalah dosen saya di Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu hadis. Karya beliau sangat begitu banyak, selain itu beliau juga terkadang mengirimkan berbagai banyak tulisannya di WhatsApp yang disebarkan kepada mahasiswa ataupun khalayak umum.  Dari tulisan chat tersebut mengandung banyak hikmah, dakwah, motivasi dan lain sebagainya. Beliau juga terkadang memberikan ruang untuk curhat dan diskusi. Amat sangat baik sosok dosen seperti beliau yang waktu istirahatnya pun beliau bagikan waktunya untuk sharing dan berbagi ilmu. Semoga Almarhum diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Perjalanan hidup manusia mengalami pasang surut ruhani, Iman terkadang naik atau dalam artian sangat bersemangat dalam beribadah maupun melakukan hal-hal yang baik. Dan terkadang juga Iman kita turun atau berada diposisi malas beribadah atau malas melakukan hal-hal yang baik. Dalam hal ini setiap manusia pernah mengalami dan merasakan pasang surut Imanzz yang berefek kepada naik turunnya amal shaleh. Allah berfirman dalam surat al-Ra’d : 13:11

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ ..    

“… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”

Para mufassir atau ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata al-Nafs dalam ayat ini adalah potensi bathin atau ruhani, maksudnya ialah, Allah Ta’ala tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu melakukan perubahan dirinya sendiri.

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa perubahan dari fitrahnya karena dipengaruhi oleh factor eksternal, diantaranya seperti dalam firman Allah SWT QS. Ali Imran ayat : 14

“Dijadikan indah (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, lading. Itukah kesenangan di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa kita di dunia ini sedang di uji dengan berbagai macam keindahan dunia yang nikmatnya hanya sementara. Diantaranya : - wanita, wanita diciptakan oleh Allah SWT merupakan anugerah. Seperti dalam sabda Rosulullah SAW : “Rosulullah SAW bersabda, dunia adalah perhiasan dan sebaik baiknya perhiasan adalah wanita Sholehah”. Wanita yang sholehah akan mempengaruhi laki-laki kepada kebaikan dan takwa. Sebaliknya, wanita yang buruk akhlaknya akan mempengaruhi laki-laki kepada keburukannya.

- Anak, anak merupakan salah satu ujian bagi kedua orang tuanya,

إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ         

 “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar (QS. At-thagabun : 15)

-Harta, faktor eksternal yang mempengaruhi seseorang adalah harta. Manusia sangat condong dan cenderung untuk memiliki dan berlomba-lomba untuk meperbanyak harta. Islam mengajarkan agar umatnya memiliki harta. Namun, islam mengajarkan agar manusia tidak dikuasai oleh harta.

          Dari faktor-faktor tersebut yang dapat mempengaruhi pola berpikir dan bertindak manusia, maka perlu adanya upaya perbaikan diri agar manusia tidak terjerumus terhadap hal-hal yang Allah haramkan. Yang pertama, perbaikan aqidah atau ishlah aqidah. Kedua, perbaikan muamalah. Kamu muslimin harus meningkatkan dan menguasai seluruh bidang kehidupan sebagai bekal di akhirat. Kebodohan, kemiskinan dan kelemahan adalah penyakit yang harus diperbaiki. Sejatinya, kita hidup didunia harus seimbang antara kehidupan di dunia dan bekal di akhirat. Bukan berarti kita meninggalkan kehidupan dunia begitu saja akan tetapi kita hidup di dunia menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarangnya sebagai acuan untuk mempunyai bekal untuk di akhirat nanti. Ketiga, perbaikan akhlak. Keempat, perbaikan ibadah, sebagai hamba tugasnya hanyalah mengabdi. Saat pengabdian tiada lagi maka yang terjadi adalah perbudakan. Ketika manusia tidak menjadi budak Allah SWT, maka manusia akan menjadi budak syahwatnya.

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
saat manusia tidak mau lagi beribadah, maka manusia akan dieksploitasi oleh manusia. Kemerdekaan sejati adalah apabila manusia merdeka dari penjajahan oleh hawa nafsu.

 Renungkanlah, apakah kita masih diperbudak oleh kehidupan dunia?

Apakah amal kita sudah cukup dan siap untuk bertemu sang khalik?

karena sejatinya kematian itu tidak menunggu kita siap, akan tetapi kita harus siap dengan kematian.

 

Wallahu A'lam Bi Showab...

Semoga Bermanfaat 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jilbab Syar'i, mahkota kesucian

SAMPAI KAPAN GINI TERUS

PANDEMI DALAM PERSEFEKTIF HADIS