Jilbab Syar'i, mahkota kesucian
Penerbit
: Darul Arqom
Tahun
Terbit : 2018
Kota
Terbit : Jakarta
Jumlah
Halaman : 285 Halaman
Penulis
: Dr.HM. Zuhdi Zaini, MA
Resume
Buku :
Usia
berapakah anda?
Kapan
Terakhir kali anda bermaksiat?
Kapan
terakhir kali anda bertaubat?
Kapan
terakhir kali anda berdzikir?
Kapan
terakhir kali anda berbuat baik?
Kapan
terakhir kali anda berbakti kepada kedua orang tua?
Sudah
punya amal apakah di usia sekarang?
Buku
sebuah Renungan mengingatkan kita akan perjalanan hidup di dunia yang tidak akan
abadi. Dalam buku ini tidak hanya merenungkan diri sendiri saja akan tetapi
merenungkan kondisi umat saat ini. Begitu banyak keresahan dalam diri dan
keresahan di sekitar kita.
Kita
sebagai umat islam mengharuskan untuk mengembalikan segala urusan kita kepada Allah, atau dalam artian
segala urusan kita harus melibatkan Allah. Karena hanya Allah lah tempat
bergantung Makhluknya. Dalam buku ini banyak sekali menjadikan Al-Qur’’an dan
Hadis sebagai sumber rujukan utama.
Dalam
buku ini mengulik banyak mengenai kemaslahatan umat, diantaranya : Kepemimpinan
dalam islam, Agama dan Cinta, Allah maha Pencemburu, Cinta dan Benci karena
Allah, Dzikrullah, Akal dalam Perspektif AL-Qur’an, Mengenai Fatimah Az-Zahra,
Al-Ghuraba, Hati dalam Perspektif Al-Qur’an, Perbaikan diri dan lain
sebagainya. Saya sangat tertarik dengan buku ini, karena penulis buku ini
adalah dosen saya di Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu hadis. Karya beliau
sangat begitu banyak, selain itu beliau juga terkadang mengirimkan berbagai
banyak tulisannya di WhatsApp yang disebarkan kepada mahasiswa ataupun khalayak
umum. Dari tulisan chat tersebut
mengandung banyak hikmah, dakwah, motivasi dan lain sebagainya. Beliau juga
terkadang memberikan ruang untuk curhat dan diskusi. Amat sangat baik sosok
dosen seperti beliau yang waktu istirahatnya pun beliau bagikan waktunya untuk
sharing dan berbagi ilmu. Semoga Almarhum diberikan tempat yang terbaik di
sisi-Nya.
Perjalanan
hidup manusia mengalami pasang surut ruhani, Iman terkadang naik atau dalam
artian sangat bersemangat dalam beribadah maupun melakukan hal-hal yang baik.
Dan terkadang juga Iman kita turun atau berada diposisi malas beribadah atau
malas melakukan hal-hal yang baik. Dalam hal ini setiap manusia pernah
mengalami dan merasakan pasang surut Imanzz yang berefek kepada naik turunnya
amal shaleh. Allah berfirman dalam surat al-Ra’d : 13:11
“… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”
Para
mufassir atau ulama tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata al-Nafs
dalam ayat ini adalah potensi bathin atau ruhani, maksudnya ialah, Allah Ta’ala
tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu melakukan perubahan
dirinya sendiri.
Al-Qur’an
mengisyaratkan bahwa perubahan dari fitrahnya karena dipengaruhi oleh factor eksternal,
diantaranya seperti dalam firman Allah SWT QS. Ali Imran ayat : 14
“Dijadikan
indah (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, lading. Itukah
kesenangan di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Dalam
ayat tersebut menjelaskan bahwa kita di dunia ini sedang di uji dengan berbagai
macam keindahan dunia yang nikmatnya hanya sementara. Diantaranya : - wanita,
wanita diciptakan oleh Allah SWT merupakan anugerah. Seperti dalam sabda
Rosulullah SAW : “Rosulullah SAW bersabda, dunia adalah perhiasan dan sebaik
baiknya perhiasan adalah wanita Sholehah”. Wanita yang sholehah akan
mempengaruhi laki-laki kepada kebaikan dan takwa. Sebaliknya, wanita yang buruk
akhlaknya akan mempengaruhi laki-laki kepada keburukannya.
- Anak, anak
merupakan salah satu ujian bagi kedua orang tuanya,
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah
cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar (QS. At-thagabun : 15)
Maka
pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan
Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka
siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
saat manusia tidak mau lagi beribadah, maka
manusia akan dieksploitasi oleh manusia. Kemerdekaan sejati adalah apabila
manusia merdeka dari penjajahan oleh hawa nafsu.
Renungkanlah,
apakah kita masih diperbudak oleh kehidupan dunia?
Apakah
amal kita sudah cukup dan siap untuk bertemu sang khalik?
karena
sejatinya kematian itu tidak menunggu kita siap, akan tetapi kita harus siap
dengan kematian.
Wallahu
A'lam Bi Showab...
Semoga
Bermanfaat
Maa syaa Allah :'
BalasHapus