Jilbab Syar'i, mahkota kesucian

Gambar
Jilbab syar’i, selimut kasih Ilahi, Menutupi raga dengan lembut suci. Bukan sekadar kain membalut tubuh, Namun benteng jiwa dari segala peluh. Di bawah naungannya ada kemuliaan, Simbol iman dan ketaatan. Tak goyah meski angin mencibir, Karena ini adalah titah yang takkan pudar. Wahai Muslimah, hiaslah dirimu, Dengan kain syar’i yang melindungimu. Bukan belenggu, tetapi penjaga, Agar surga menjadi tempat tinggalmu selamanya. Jilbabku bukan sekadar busana, Ia adalah mahkota dari surga. Pakaian takwa yang Allah restui, Menjadi saksi cinta kepada Ilahi. Jilbab Syar'i: Tuntunan, Hikmah, dan Keutamaannya Islam adalah agama yang memberikan perhatian besar terhadap kemuliaan dan kehormatan wanita. Salah satu bentuk perlindungan tersebut adalah dengan mensyariatkan jilbab syar’i. Jilbab syar’i bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga simbol ketaatan, kemuliaan, dan identitas seorang Muslimah. Al-Qur'an memberikan tuntunan yang jelas mengenai pakaian wanita Muslimah, salah satunya dalam ...

SAMPAI KAPAN GINI TERUS

 



Tinggalkan Apa yang Tidak Bermanfaat Bagimu

Islam sangat mementingkan dan menghargai terkait dengan waktu, karena waktu itu sangat bernilai dan menjadi tolok ukur kebaikan seseorang. Apakah waktunya dimanfaatkan dengan baik, atau sebaliknya. Seperti dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Ashar ayat 1-3

وَالۡعَصۡرِۙ1

اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ 2

اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ 3

“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

 Seorang muslim dalam menjalankan kehidupan sehari-hari itu sangat diatur mulai dari hal terkecil sampai hal terbesar, semua amal kebaikan telah diatur baik dalam Al-Quran maupun Hadis, tidak hanya perbuatan saja yang diatur akan tetapi waktu pun diatur. misalnya Allah memuliakan orang-orang yang tepat waktu dalam melaksanakan sholat, demikian Allah pula yang menentukan waktu tersebut, contoh lainnya seperti shaum ramadhan, zakat, dan lain sebagainya. Intinya segala hal kebaikan yang memberatkan amal kita kepada timbangan kebaikan pasti diatur pula waktunya. kemudian Allah juga memberi banyak kebaikan kepada orang-orang yang memanfaatkan waktunya dengan baik.

Melihat fenomena tren saat ini baik di usia anak kecil, muda maupun dewasa mereka mengenal arti kata “Rebahan” atau diartikan sebagai bersantai-santai, atau disebut pula dengan berleha-leha. Ada pula yang memakai waktunya dengan kegiatan yang tidak bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain. Hal ini menyebabkan akan terjadinya kelalaian atau ketidak efesiennya waktu yang kita miliki. Sebagaimana dalam Sabda Rosulullah SAW tentang meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi kita.

عَن أبي هُرَيرَة رَضي اللّه عنه قَالَ : قَالَ رَسُول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : مِنْ حُسنِ اسلام المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَنْعِهِ

Dari Abu Hurairah Ra ia Berkata, Bersabda Rosulullah SAW, “Diantara Kebaikan islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak penting baginya”. ( Hadis Hasan,  diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya seperti ini).

Kandungan Hadis

Tingkat keislaman seseorang itu berbeda-beda, ada yang baik dan ada yang tidak baik, berdasarkan sabda beliau : مِنْ حُسنِ اسلام المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَنْعِهِ ( diantara kebaikan islam seseorang).

Manusia semestinya meninggalkan apa yang tidak berguna baginya, baik dalam urusan agama maupun dunianya, karena hal itu lebih memelihara waktunya, lebih selamat untuk agamanya, dan lebih mudah untuk menutupi kekurangannya. Seandainya ia ikut campur dalam berbagai urusan manusia yang tidak berguna baginya, niscaya ia penat. Tetapi jika ia berpaling darinyadan tidak sibuk kecuali pada ap yang berguna baginya, maka itu akan menjadi ketentraman dan ketenangan baginya.

Manusia tidak boleh menyia-nyiakan apa yang berguna baginya, yakni apa yang penting baginya dari urusan agama dan dunianya. Dia mestinya meperhatikannya, sibuk dengannya, dan melakukan sesuatu yang memudahkannya mencapai tujuan.

Meninggalkan apa yang tidak bermanfaat atau berguna bagi kita niscaya kita akan mendapatkan hasil berupa kebaikan dari apa yang kita lakukan, niscaya sejatinya menyia-nyiakan waktu akan membuat penyesalan diakhir bagi diri kita. Untuk itu jika waktu kita ingin tetap produktif dan bermanfaat, yang pertama : Membuat to the list, apa yang sekiranya penting dan dibutuhkan untuk kita saat ini, atau dalam artian prioritaskan kepentingan kita, kemudian tunaikan hak umat. Kedua : mulai lakukan apa yang telah kita tulis. Ketiga : jika tercapai buatlah self reward atau self punishment.

HEIII..... SAMPAI KAPAN KITA GINI TERUS, AMAL TIDAK BERTAMBAH, SEDANGKAN UMUR KITA SEMAKIN BERKURANG

Sejatinya waktu kita itu adalah menunggu, menunggu waktu shalat dan menunggu di shalatkan ...

semoga Bermanfaat ... :)


Referensi : An-Nawawi, Al- Nawawi. 2018. Hadits Arrba'in An-Nawawi. Jakarta : Darul Haq

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jilbab Syar'i, mahkota kesucian

PANDEMI DALAM PERSEFEKTIF HADIS