Jilbab Syar'i, mahkota kesucian
Islam sangat mementingkan dan menghargai terkait dengan waktu,
karena waktu itu sangat bernilai dan menjadi tolok ukur kebaikan seseorang.
Apakah waktunya dimanfaatkan dengan baik, atau sebaliknya. Seperti dalam firman
Allah SWT dalam surat Al-Ashar ayat 1-3
وَالۡعَصۡرِۙ1
اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ 2
اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا
بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ 3
“Demi masa, sungguh,
manusia berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati
untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Seorang muslim dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari itu sangat diatur mulai dari hal terkecil
sampai hal terbesar, semua amal kebaikan telah diatur baik dalam Al-Quran
maupun Hadis, tidak hanya perbuatan saja yang diatur akan tetapi waktu pun
diatur. misalnya Allah memuliakan orang-orang yang tepat waktu dalam
melaksanakan sholat, demikian Allah pula yang menentukan waktu tersebut, contoh
lainnya seperti shaum ramadhan, zakat, dan lain sebagainya. Intinya segala hal
kebaikan yang memberatkan amal kita kepada timbangan kebaikan pasti diatur pula
waktunya. kemudian Allah juga memberi banyak kebaikan kepada orang-orang yang
memanfaatkan waktunya dengan baik.
Melihat fenomena tren saat ini baik di usia anak kecil, muda maupun
dewasa mereka mengenal arti kata “Rebahan” atau diartikan sebagai
bersantai-santai, atau disebut pula dengan berleha-leha. Ada pula yang memakai
waktunya dengan kegiatan yang tidak bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang
lain. Hal ini menyebabkan akan terjadinya kelalaian atau ketidak efesiennya
waktu yang kita miliki. Sebagaimana dalam Sabda Rosulullah SAW tentang meninggalkan
apa yang tidak bermanfaat bagi kita.
عَن أبي
هُرَيرَة رَضي اللّه عنه قَالَ : قَالَ رَسُول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : مِنْ
حُسنِ اسلام المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَنْعِهِ
Dari Abu
Hurairah Ra ia Berkata, Bersabda Rosulullah SAW, “Diantara Kebaikan islam
seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak penting baginya”. ( Hadis Hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya
seperti ini).
Kandungan
Hadis
Tingkat
keislaman seseorang itu berbeda-beda, ada yang baik dan ada yang tidak baik,
berdasarkan sabda beliau : مِنْ
حُسنِ اسلام المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَنْعِهِ ( diantara kebaikan
islam seseorang).
Manusia semestinya meninggalkan apa yang tidak berguna baginya,
baik dalam urusan agama maupun dunianya, karena hal itu lebih memelihara
waktunya, lebih selamat untuk agamanya, dan lebih mudah untuk menutupi
kekurangannya. Seandainya ia ikut campur dalam berbagai urusan manusia yang
tidak berguna baginya, niscaya ia penat. Tetapi jika ia berpaling darinyadan
tidak sibuk kecuali pada ap yang berguna baginya, maka itu akan menjadi ketentraman
dan ketenangan baginya.
Manusia tidak boleh menyia-nyiakan apa yang berguna baginya, yakni
apa yang penting baginya dari urusan agama dan dunianya. Dia mestinya
meperhatikannya, sibuk dengannya, dan melakukan sesuatu yang memudahkannya
mencapai tujuan.
Meninggalkan apa yang tidak bermanfaat atau berguna bagi kita
niscaya kita akan mendapatkan hasil berupa kebaikan dari apa yang kita lakukan,
niscaya sejatinya menyia-nyiakan waktu akan membuat penyesalan diakhir bagi
diri kita. Untuk itu jika waktu kita ingin tetap produktif dan bermanfaat, yang
pertama : Membuat to the list, apa yang sekiranya penting dan dibutuhkan untuk
kita saat ini, atau dalam artian prioritaskan kepentingan kita, kemudian
tunaikan hak umat. Kedua : mulai lakukan apa yang telah kita tulis. Ketiga :
jika tercapai buatlah self reward atau self punishment.
HEIII..... SAMPAI KAPAN KITA GINI TERUS, AMAL TIDAK BERTAMBAH, SEDANGKAN UMUR KITA SEMAKIN BERKURANG
Sejatinya waktu kita itu adalah menunggu, menunggu waktu shalat dan menunggu di shalatkan ...
semoga Bermanfaat ... :)
Referensi : An-Nawawi, Al- Nawawi. 2018. Hadits Arrba'in An-Nawawi. Jakarta : Darul Haq
Masya Allah, tulisannya reminder banget
BalasHapus